Selasa, 10 Januari 2017

PAPA SUPER ASI



Beruntung sekali aku mempunyai suami yang mendukung penuh program ASI eksklusive untuk bayiku. Bahkan dia selalu mengingatkan aku ketika aku harus memerah dan menambah stok ASI. Suami juga selalu mencari informasi tentang kebutuhan ASI dan asupan gizi untuk ibu menyusui. Hal ini untuk memastikan bahwa ASI yang aku hasilkan mencukupi dan berkualitas.
Hampir setiap dua minggu sekali aku harus bertugas keluar kota. Komitmenku untuk terus bekerja meski memiliki bayi harus tetap aku laksanakan, selain karena aku masih menyukai pekerjaanku, aku juga masih ingin mempunyai penghasilan sendiri sedangkan aku tidak mempunyai usaha selain bekerja. Peranku sebagai ibu seringkali digantikan oleh suami ketika aku harus bertugas ke luar kota. Dengan cekatan suami mengurus dan menyiapkan semua kebutuha si bayi.
Ketika bayiku berumur 4 bulan, aku mendapat tugas ke luar kota selama seminggu. Tugas kali ini cukup mendadak karena baru dua hari sebelumnya aku mendapat informasi. Kebetulan orang yang biasa membantu kami bergantian dengan suami untuk menjaga bayi ketika aku bertugas, sedang ada urusan sehingga tidak bisa membantu. Suami segera menghubungi bibinya yang ada di kampung untuk datang membantu, namun  ternyata tidak bisa. Suami kemudian menelepon kakaknya yang ada di Kuningan Jawa Barat untuk datang, namun ternyata juga tidak bisa karena harus menjaga cucunya yang ditinggal tugas keluar kota oleh ibunya. Akhirnya kami terpaksa mengambil keputusan untuk membawa bayi kami ke Kuningan, karena waktunya mendesak, aku tidak dapat mengantar bayiku.
Satu-satunya pilihan adalah suami yang membawa bayiku ke Kuningan. Kebetulan selama satu minggu ke depan tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh suamiku sehingga dia dapat menemani bayiku selama di Kuningan.  Malam itu juga aku browsing dan mendapatkan tiket kereta Cirebon Ekspres untuk suamiku. Suami dan bayiku berangkat ke Kuningan dari stasiun Gambir dengan naik kereta dan turun di stasiun Cirebon. Perjalanan dari Cirebon menuju Kuningan masih 1 jam. Suami dan bayiku akan dijemput oleh sepupu di stasiun Cirebon.
Komitmen kami adalah apa pun keadaannya, bayiku harus tetap minum ASI  minimal sampai 6 bulan. Aku bisa membayangkan bagaimana repotnya suamiku dalam perjalanan itu. Dia harus membawa bayiku dengan strollernya, tas yang berisi pakaian suami, tas yang berisi perlengkapan bayi untuk satu minggu serta cooler bag besar berisi sekitar 7 liter ASI beku. Perlengkapan bayi yang harus dibawa oleh suami cukup banyak karena saat itu bayiku dalam keseharian tidak menggunakan popok buatan, tetapi popok kain biasa sehingga harus lebih sering ganti pakaian. Popok sekali pakai hanya kami gunakan jika bayiku dalam perjalanan saja.
Aku menyiapkan sekitar 70 botol ASI perah beku yang disimpan di botol ASI serta plastik khusus ASI. ASI tersebut sebelumnya sudah aku bekukan di freezer sehingga lebih tahan lama. Untuk menjaga agar ASI tetap beku dan tidak rusak, ASI dibawa dengan menggunakan Coller bag besar dan disela botol diberi ice gel. Beruntung sebelumnya aku sempat hunting untuk beli cooler bag besar. Cooler bag ini muat sampai hampir 100 botol asal dapat menatanya dengan benar. Aku mendapatkannnya melalui online shop. Selain cooler bag besar itu aku masih ada 2 cooler bag yang lain yang hanya muat sekitar 7 botol saja. Cooler bag kecil ini yang biasa aku gunakan ketika aku ke kantor atau bepergian. Jadi selama ini aku menjadi ibu cooler, dimana ada aku,  di situ pasti ada cooler bag.
Pagi itu kami berangkat bersama dengan  menggunakan taksi. Jam 5 pagi kami sudah meinggalkan rumah. Aku antar suami dan bayiku dulu ke stasiun Gambir setelah itu aku menuju bandara Sukarno Hatta. Aku sangat bangga degan suamiku yang mau berepot ria demi ASI eksklusif bayiku. Perjalanan dari rumah di Jakarta selatan- Kuningan ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam. Untuk selama diperjalanan aku sudah menyiapkan sekitar 3 botol ASI yang sudah aku cairkan. ASI tersebut tetap aku masukkan ke cooler bag untuk menjaga agar tidak rusak. Selain itu aku juga meyiapkan termos kecil berisi air panas yang akan digunakan untuk merendam ASI cair sebelum diberikan ke bayi sehingga suhunya standart. Untuk menjaga aga bayi tidak dehidrasi dalam perjalanan setiap 2 jam sekali bayiku selalu diberi ASI minimal 100 ml.
Suami dan bayiku sampai di Kuningan sekitar jam 12 siang. Aku langsung menelpon suamiku dan Alhamdulillah selama di perjalanan ternyata bayiku tidak rewel dan tetap banyak minum. Ketika mereka di Kuningan, sering sekali aku menelpon untuk menanyakan keadaannya. Setiap pilihan  yang kita mabil belum tentu dapat diterima oleh pikiran orang lain. Begitu juga pilihan kami untuk tetap memberikan ASI bagi bayiku. Bahkan saudara kami yang seorang para medis saja menganggap pilihan kami merupakan sebuah pilihan yang konyol. Ada satu famili yang bahkan mengatakan bahwa aku adalah seorang ibu yang tega dan pelit terhadap anak sendiri karena tidak mau memberikan susu formula. Menurut mereka susu formula adalah yang terbaik buat bayi. Sedangkan menurut kami, hanya kami yang tahu apa yang terbaik buat anak kami.
Selama satu minggu tersebut aku cukup was-was takut ASIP yang dibawa tidak cukup. Setiap hari aku selalu berhitung sisa stok ASI yang ada. Tiba di hari ketika aku sudah harus kembali ke Jakarta aku sangat senang sekali namun juga sangat khawatir. Waktu itu jam 7 pagi aku menelpon suami dan suami mennyampaikan bahwa stok ASI tinggal tinggal 4 botol lagi. Itu artinya 8 jam lagi stok ASI akan habis karena bayiku meminumnya 1 botol per jam. Aku sangat berharap pesawat yang akan membawaku tidak delay sehingga tepat 8 jam lagi aku sudah dapat bertemu dengan bayikuku dan segera dapat menyusui langsung.
Selama dalam bertugas tersebut aku selalu memerah ASI dan kembali ke Jakarta aku membawa sekitar 6 liter ASIP. Ada sedikit masalah di bandara ketika aku melalui  bagian pemeriksaan. Petugas curiga dengan apa yang aku bawa  walau aku sudah menjelaskan bahwa yang aku tersebut adalah ASIP yang aku kumpulkan beberapa hari. Akhirnya terpaksa aku membuka satu botol untuk menunjukkan ke petugas baru aku diperbolehkan membawanya. Ketika sudah sampai di ruang tunggu bandara, aku sempat mendapat informasi bahwa pesawat akan terlambat sekitar 30 menit. Ini membuat aku cukup panik. Aku terus berdoa agar bayiku tidak kehausan sampai aku bertemu dengannya.  Di bandara aku sempat meneteskan airmata ketika melihat seroang bapak muda menggendong bayinya yang seumuran dengan bayiku. Ibu si bayi duduk di sampingnya. Aku ingat bayi dan suamiku. Di jam yang sama suami dan bayiku juga sedang perjalanan kembli ke Jakarta dengan menggunakan kereta api. Pasti suamiku lebih ribet dari bapak muda itu karena selain sendirian, suami juga harus membawa tas dan cooler bag berisi botol ASI yang sudah kososng.
Beruntung pesawat yang aku tumpangi mempunyai ruang pedingin yang cukup besar. Seorang pramugari menyarankan aku untuk menitipkan ASI ku di ruang pendingin tersebut. Aku tiba di bandara Sukarno Hatta terlambat 30 menit dari seharusnya. Aku langsung memesan taksi untuk mengantar ke rumah. Suami dan bayiku akan tiba di stasiun Gambir satu jam kemudian. Dengan pertimbangan menghindari resiko macet maka kami memutuskan aku akan langsung ke rumah dan suami dengan bayiku  akan naik taksi sendiri dari stasiun, tidak perlu aku jemput. Jalanan Jakarta sore itu agak tersendat. Kembali kekhawatiran menghapiri aku. Satu jam kemudian aku telpon suami dan suami sudah sampai di stasiun. Aku dengar bayiku menangis kencang. Suami menyampaikan bahwa mungkin bayiku sudah haus dan stok ASI sudah habis setengah jam yang lalu. Aku cukup panik.  Supir taksi yang mengantarku bertanya apa yang terjadi ketika mengetahui kepanikanku. Akhirnya aku jelaskan bahwa yang baru saja aku telpon adalah suami ku yang saat itu sedang membawa anakku dari Kuningan. Supir tersebut bertanya berapa umur anakku, aku jawab 4,5 bulan. Supir taksi itu berkata, bahwa dia tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya suamiku membawa bayi dalam perjalanan sejauh itu karena si bapak supir  pernah  membawa anaknya yang sudah 5 tahun saja dan merasa kerepotan, apalagi yang dibawa suamiku adalah bayi 4,5 bulan.
Pernyataan pak supir semakin membuat aku panik. Terlebih beberapa menit kemudian suamiku menelpon lagi dan menyampaikan bahwa bayiku menangis lagi. Beruntung jalanan yang aku lalui dan yang dilalui suami saa itu sama-sama lancar sehingga tepat saat bayiku harus minum lagi, kami sampai rumah dalam waktu yang bersamaan. Bersyukur sekali aku saat itu, bayiku tidak harus kekurangan minum karena begitu sampai rumah, aku langsung menyusuinya. Saat itu yang kembali harus aku pikirkan adalah bagaimana aku harus segera menabung ASI kembali untuk persiapan jika aku harus berdinas ke luar kota lagi. Terlebih dengan semakin besarnya bayiku maka kebutuhan ASI akan semakin banyak.

Sabtu, 07 Januari 2017

I Love Saturday



I love Saturday,pasti banyak yang setuju dengan kalimat di atas, terutama bagi yang mempunyai aktifitas di luar full dari senin sampai jumat. Selain sabtu menjadi hari yang dapat digunakan untuk beristirahat, sabtu juga merupakan hari dimana kita bisa seharian bersama keluarga. Bagi aku, sabtu berarti hari dimana full satu hari kegiatanku harus bersama si anak.
Bagaimana agar sabtu kita berkualitas
Agar sabtu kita berkualias dan berasa hari liburnya maka kita tetap harus membuat schedulle apa saja yang harus kita selesaika.  Jika kita mempunyai anak kecil, maka kita tetap harus bangun pagi menyelesaikan semua pekerjaan sebelum si kecil bangun, jadi  saat si kecil bangun dan butuh perhatian kita tidak lagi direpotkan oleh pekerjaan rumah.
Bagaimana yang aku lakukan?
a.       Jika memungkinkan membawa si kecil saat harus masuk di hari libur
Kebetulan aku bekerja dan lebih sering terpaksa harus overtime, sehingga waktu dengan si kecil sangat terbatas. Bahkan sering harus berangkat ketika si kecil masih tidur dan kembali ke rumah si kecil sudah lelap tertidur. Sedikit hal yang menguntungkan adalah si kecil lebih sering tidur kelewat malam untuk seumurannya, di atas jam 11, jadi aku punya waktu setelah pulang kerja untuk bermain dengannya.
Sebagai seorang karyawan lembaga keuangan sering kali di hari sabtu terutama di akhir bulan atau pada saat ada closing audit di salah satu cabang yang aku supervise, aku terpaksa masuk kerja. Untuk kegiatan seperti ini biasanya masuk kerja sekitar ½ hri.  Jika masuk di hari sabtu, aku biasa bawa si kecil. Saat aku harus di kantor biasanya di kecil bermain di taman atau di tempat permainan yang tidak jauh dari kantor dengan tante atau papanya, sehingga saat perjalanan berangkat dan pulang aku bisa bersamanya.
b.      Pekerjaan yang dapat dikerjakan orag lain, dikerjakan oleh orang lain.
Untuk menyelesaikan pekerjaan mencuci, aku lakukan dengan mesin cuci sehingga waktunya lebih singkat dan dapat disambi dengan momong si kecil. Menyetrika pakaian merupakan pekerjaan terberat karena tidak dapat disambi momong. Hal ini terkait dengan keselamatan si kecil. Disamping itu menyetrika juga memakan waktu yang cukup banyak. Untuk pekerjaan ini  aku menggunakan jasa laundry. Agar bisa berhemat, mencuci aku  lakukan dengan mesin cuci di rumah sedang untuk menyetrika aku lakukan di laundry. Karena keluarga kami sudah mempunyai langganan laundry, kami mendapat fasilitas antar jemput dari pihak laundry, disamping itu dengan biaya standart kami dapat pelayanan lebih cepat. Dalam sebulan kami biasa mengirimkan pakaian sampai 6 kali ke laundry.
c.       Menganggap pekerjaan rumah sebagai cara untuk refreshing.
Sebenarnya aku bukan orang yang suka memasak, tapi sesekali di wakt libur aku mengerjakannya sebagai cara untuk refreshing. Biasanya aku memasak sambil dengan tetap mengawasi si kecil yang baru berumr 3 tahun. Saat aku memotong sayuran, si kecil juga aku beri pisau tumpul dan sebagian bahan sayur yang tidak terpakai. Sementara aku memasak, si kecil asik memotong sayurannya.  Aku memasak menu simple dari hasil browsing.
d.      Bercocok tanam
Untuk kegiatan ini sebenarnya yang hoby adalah suami. Kami bertiga, aku, suami dan anak ketika sabtu sering menghabiskan sebagian waktu kami untuk bertanam. Kami memanfaatkan atas rumah yang sudah dicor untk lantai dua rumah kami, kebetulan saat ini belum dibangun lagi. Jadi kami gunakan tempat itu unuk bertanam beberapa jenis sayuran seperti  tomat, terong dan cabai. Media yang kami gunakan dengan polybag. Warna hijaunya menyegarkan mata dan membuat udara jaddi lebih segar. Walau hasilnya panennya tidak seberapa, tetapi kami sangat senang melakukannya. Ketika panen, kami biasa memetik hasilnya dan sebagian kami bagi ke tetangga, hubungan kami dengan tetangga jadi lebih dekat juga.

Sabtu, 20 Agustus 2016

KETIKA BAPAK PERGI



Kepergian bapak terasa sangat cepat, tanpa didahului sakit sama sekali. Bahkan setengah jam sebelum bapak meninggal,  bapak masih bekerja membersihakan lahan yang akan digunakan untuk membangun rumahku. Kami semua sangat terpukul dengan kejadian ini. Di mata kami bapak orang yang sangat baik, penyayang dan penyabar.  Beliau pergi setelah satu setengah bulan aku memenuhi keinginannya untuk tinggal bersama bapak. Bapak pernah berucap ingin meninggal tanpa harus sakit lebih dulu. Beberapa hari sebelum bapak meninggal, beliau menyampaikan bahwa semua keinginannya tentang  anak-anaknya sudah terwujud. Aku yang sebelumnya merantau sejak 10 tahun 6 bulan sudah mutasi dan sementara  tinggal bapak. Keinginannya  mempunyai cucu perempuan sudah terwujud dengan lahirnya anak ketiga kakakku sebulan lalu. Keinginan agar diantara anak-anaknya ada yang meneruskan mengajar di sekolah dimana dulu bapak mengajar juga terpenuhi sejak adikku diterima mengajar di sekolah itu. Beliau juga ingin adikku yang sebelumnya mengajar jauh di luar kota dapat mutasi ke dekat rumah, dan sudah terwujud. Di mataku bapak sosok yang sempurna, tidak pernah marah apalagi main tangan kepada anak-anaknya maupun ibu.

Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, aku tahu benar bagaimana bapak yang seorang guru Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) harus berjuang menghidupi dan menyekolahkan kami. Untuk menambah penghasilan, bapak bertani di lahan yang beliau miliki. Lahan itu semakin menyempit karena terpaksa sebagian dijual untuk membiayai kuliah kami. Ketika kakakku di terima di sebuah universitas, sepetak sawah bapak terpaksa direlakan untuk bayar uang gedung, begitu pun ketika dua tahun kemudian aku menyusul masuk kuliah, bapak juga kembali harus merelakan sepetak sawahnya. Ketika adikku masuk kuliah, kejadian terulang lagi, beliau harus melepas sepetak sawahnya lagi untuk uang masuk. “ Tidak apa-apa, yang penting kalian bisa mendapat pendidikan yang bagus, sawah ini lah satu-satunya tabungan bapak” begitu ucapnya ketika aku bertanya kenapa sepetak demi sepetak sawah itu harus pindah pemilik.

Aku sangat dekat dengan bapak, bahkan sampai aku masuk semester 1 kemana pun bapak pergi dan harus menginap, aku selalu diajaknya serta. Bukan berarti hubungan kami selalu mulus, kami juga beberapa kali bersikeras dengan pendapat kami masing-masing. Namun bapak selalu mendapat solusi sehingga hubungan kami kembali baik.

Kepergian bapak yang sangat mendadak adalah pukulan yang sangat berat bagiku, terlebih selama ini aku adalah satu-satunya anak yang  tinggl jauh dari keluarga. Kakak dan adikku ketika sudah menikah, mereka memiliki rumah yang tidak jauh dari rumah bapak sedang aku sejak lulus kuliah dan bekerja dari tahun 2005, pindah-pindah tempat antara Tangerang, Bogor, Bekasi dan Jakarta.

Ketika sore itu bapak mengeluh sakit di lambungnya, aku mengikutinya berjalan menuju ke kamarnya. Bapak merebahkan diri, dan menyampaikan ingin istirahat sebentar. Ibu, suami, satu adikku dan anakku mengikuti ke kamar bapak. Ibu masih sempat menyuapi bapak dengan teh hangat. Keringat mengucur dari tubuh bapak. Aku menawarkan untuk memanggil dokter, tapi bapak menolak karena hanya merasa sedikit capek. Waktu itu feelingku mengatakan akan terjadi sesuatu, aku meminta suamiku untuk membawa bapak ke rumah sakit, namun bapak menolak. Beberapa menit kemudian bapak batuk-batuk tiga kali dan mengucap “Laa illa ha illaallah”, setelah itu bapak nampak lemas. Suami dan adik laki-laki ku segera  mengangkat tubuh bapak ke mobil dan membawa ke rumah sakit yang jaraknya 4 menit perjalanan dari rumah.

Beberapa menit kemudian sepupu-ku yang menyusul ke rumah sakit menyampaikan bahwa bapak sudah meninggal.  Rasanya dunia gelap saat itu.  Sekilas aku merasa seorang sepupuku menggotongku ke kamar. Semua masih terasa gelap. Tiba-tiba aku seperti melihat putaran film dari masa kecilku. Ketika masih TK merengek-rengek kepada bapak minta dibelikan sepatu, tas, boneka dan mainan lainnya . Suatu hari di bawah hujan aku meminta bapak mengantar ku ke lapangan kecamatan yang jaraknya 5 KM untuk melihat pertunjukkan dengan mengendarai sepeda kayuh miliknya. Terbayang bagaimana bingungnya  bapak  ketika aku dinyatakan diterima sekolah yang aku inginkan dan harus membayar sejumlah uang yang besarnya melebihi perkiraan bapak. Saat itu bapak terpaksa mengetuk  pintu rumah beberapa temannya untuk mendapat pinjaman uang guna membayar sekolahku.  Putaran film masa lalu itu membuat aku merasa sangat bersalah kepada bapak karena selama ini aku belum banyak membalas jasa bapak kepadaku, walau aku yakin bapak tak pernah mengharapkannya.

Andai waktu dapat diputar kembali, aku ingin banyak mempunyai waktu untuk bapak, mendengarkan kisahnya yang terus bangga dengan anak-anaknya. Aku ingin membuat impian-impian bapak yang mungkin belum pernah diucapkan dapat terwujud. Seperti bapak-bapak yang lain, bapakku adalah sosok yang tak akan pernah terganti. Kini yang bisa aku lakukan hanyalah mengirim doa dan ingat semua nasehatnya. Sampai bertemu di alam sana, Pak!

PERTAMA KALI MENINGGALKAN BAYI UNTUK DINAS KE LUAR KOTA



Aku masuk kerja lebih cepat 2 hari dari waktu cutiku seharusnya karena ada beberapa pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan, dan setelah tiga hari masuk aku harus berdinas ke luar kota selama lima hari. Setelah nego, aku akan mendapatkan ganti hari cuti tersebut yang bisa aku ambil beberapa minggu kemudian maka aku menyetujuinya. Hal yang cukup membingungkan aku waktu itu adalah aku belum sempat mempunyai stok ASI (Air Susu Ibu). Aku harus benar-benar berusaha untuk menyiapkan stok ASI. Langkah pertama yang aku lakukan adalah aku menghitung kebutuhan ASI selama satu hari satu malam. Selama waktu itu anakku memerlukan lima botol ASI yang berisi 100 ml. Waktu yang ada aku gunakan sebaik-baiknya untuk memproduksi ASI. Aku menjaga pola makanan dan minuman ku serta berusaha untuk tidak stress karena  akan berpengaruh terhadap produksi ASI. Semua ASI tersebut aku simpan di freezer hingga beku, diturunkan ke kulkas sesuai kebutuha per hari. Alhamdulillah, sampai waktu aku harus bertugas aku mampu mempunyai stok sebanyak 25 botol, cukup menurut hitunganku.

Untuk dinas kali ini, selain koper yang berisi baju dan laptop, bawaanku bertambah dengan cooler bag dan botol-botol serta ice gel. Cooler bag ku hanya cukup untuk menampung 10 botol sehingga aku harus menambah dengan pinjam cooler bag milik teman. Pagi sebelum ke bandara, aku susui anakku sampai kenyang dan setelahnya aku menambah stok ASI dengan memerah kembali.

Setelah sampai di bandara 2 jam kemudian, yang pertama aku cari adalah ruang perawatan bayi. Aku memerah kembali di ruang itu, memasukkan botol berisi ASI ke cooler bag. Begitu juga 2 jam kemudian setelah aku sampai di bandara tujuan, yang aku lakukan adalah memerah ASI dan menyimpan di cooler bag. Di dalam cooler bag sudah aku isi dengan ice gel yang sudah aku bekukan sehingga mampu menjaga kondisi ASI tetap segar. Cooler bag yang aku gunakan dengan ice gel beku dapat menyimpan ASI sampai 16 jam. Sampai kota tujuan, setelah menempuh perjalanan 4 jam,  aku chek in di hotel tempat kami menginap dan kembali memerah ASI.

Awalnya ada sedikit masalah di kamar hotel, kulkas kamar tidak dilengkapi dengan freezer, sedangkan ASI di suhu kulkas hanya bertahan beberapa hari, itu artinya ASI di hari pertama yang susah payah aku kumpulkan akan basi. Aku juga perlu freezer untuk membekukan kembali ice gel sehingga esoknya dapat kembali menyimpan ASI hasil perahanku hari itu agar tetap segar.

Aku menemui bagian restoran hotel dan menanyakan apakah aku dapat menitip ASI ku. Awalnya petugas ragu dan bingung, namun setelah aku jelaskan dia paham dan membolehkan aku menitip menyimpan ASI di freezer resto. Aku meminta agar ASI ku diberi ruang sendiri sehingga tidak bercampur dengan bahan makanan. Oya, setiap habis memerah ASI, aku selalu melabeli botol ASI dengan nama anakku, tanggal dan jam aku memerah. Nama anak aku cantumkan agar ASI ku tidak tertukar dengan ASI ibu lain yang mungkin juga menitipkannya di freezer resto. Tanggal aku cantumkan untuk mengetahui berapa umur stok ASI tersebut. Jam aku cantumkan untuk antisipasi jika ternyata botol-botolku tidak mencukupi  da nada botol yang blum penuh terisi, maka ASI perahan di beberapa jam kemudian akan aku gabungkan dengan ASI yang terakhir aku perah. Untuk menggabungkan dua ASI yang diperah berbeda jam, aku harus menyamakan dulu suhunya dengan menyimpannya di suhu yang sama. Hal yang aku lakukan adalah ASI hasil perahan terakhir yang suhunya hangat, aku simpan di kulkas dan baru aku satukan dengan ASI yang sebelumnya sudah disimpan di kulkas sampai suhunya sama, kemudian baru disatukan dalam satu botol.

Esoknya ketika aku bertugas ke kantor, karena di kantor cabang tidak ada kulkas maka aku gunakan cooler bag yang sudah aku isi ice gel beku untuk menyimpan hasil perahanku hari itu. Sorenya setelah sampai hotel, aku titip ASI hasil perahanku di freezer resto. Karena di kantor cabang aku tidak mempunyai ruang khusus, maka proses memerah ASI terpaksa aku lakukan di kamar mandi setelah sebelumnya aku pastikan kamar mandi relative bersih. Produksi ASI ku selama bertugas ternyata melebihi perkiraan. Stok botol yang aku bawa tidak cukup,  begitu pula dua cooler bag ku penuh. Dengan sangat terpaksa dan berurai air mata, sebagian ASI yang akudi aku perah di hari pertama terpaksa aku relakan, aku buang dan botolnya aku gunakan untuk menampung ASI hari itu.

Persoalan lain muncul ketika aku menenteng dua cooler bag di bandara. Aku sempat nyaris tertahan di bagian pengechekan, ditanya banyak hal mengenai apa yang aku bawa. Akhirnya aku persilahkan pihak bandara untuk membuka cooler bag  dan setelahnya aku dipersilahan membawa cooler bag ke kabin pesawat. Amazing, aku pulang dari bertugas selama 5 hari dengan membawa 5 liter ASI perah.

Tetap ASI exclusive walau ambil tetap bekerja, hal yang sebelumnya mustahil bagiku ternyata dapat aku lakukan dengan baik. Mobilitas pekerjaan tidak menjadi hambatan bagi ibu bekerja untuk memberikan ASI. Bagiku selain tetap dapat memberikan asupan gizi yang baik bagi buah hatiku, tetap memberinya ASI merupakan salah satu cara kami untuk terus berinteraksi walau aku sedang di luar kota.